Sabtu, 11 Agustus 2018

Ade Fitrie Kirana Bertekad 2019 Ganti Presiden

KNEWS, JAKARTA - Pesinetron Ade Fitrie Kirana (36) angkat bicara seputar politik Indonesia menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Ade Fitrie Kirana berbicara seputar kinerja Presiden Indonesia Joko Widodo yang masa jabatannya akan berakhir pada 2019 mendatang.

Pesinetron yang aktif di yayasan dan terjun ke dunia politik, menilai, Joko Widodo tidak layak menang dalam Pilpres periode 2019-2023.
Lantas, dia pun membuat tagar #GantiPresiden.

"Alasannya menurutku masyarakat ingin agar Pak Jokowi diganti, karena perekonomian yang semakin sulit," ucapnya.

"Meski pembangunan infrastruktur menjadi keunggulannya, namun hal itu tidak dapat menutupi kekecewaan rakyat terhadap Pak Jokowi," katanya.

Menurut dia, sebagian besar kinerja Joko Widodo belum meningkat hingga April 2018. Justru, dia beranggapan, harga listrik naik dan sembako mahal,  kerja susah, dan ekonomi sulit, selama masa pemerintahan Joko Widodo.

"Infrastruktur menjadi keunggulan, tapi tidak mampu menutupi kesulitan rakyat terhadap Pak Jokowi," ucapnya.

Pemilik nama lengkap Raden Siti Fitrie Kirana mengatakan, keinginan mengganti presiden bertujuan untuk keadaan lebih baik dan kemajuan bangsa lebih besar. Bukan mempertajam perbedaan.

"Pak Jokowi sudah bekerja keras, baik nilainya. Tapi kami ingin yang lebih baik, lebih mampu membawa Indonesia menghadapi tantangan zaman, karena itu #2019GantiPresiden, agar tidak saling mendzolimi lagi," katanya.

Ketua Perempuan Amanat Nasional Jakarta Selatan ini kemudian bicara mengenai lima sila dalam Pancasila.

Sesuai sila pertama Pancasial, Ketuhanan Yang Maha Esa, dia ingin tahun depan harus ganti Presiden.

"Karena kalau rezim atau pemimpin tidak ada yang berani untuk memberikan koreksi maka akan terjadi tirani. Maka kami akan katakan 2019 ganti presiden karena kami yakin kami benar dan punya hak untuk menyatakan hal itu," ucapnya,

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab dan  sila  ketiga  Persatuan Indonesia, Ade Fitrie tidak ingin bangsa terbelah dan ingin pemimpin yang dapat menyejahterakan rakyatnya.

Sila keempat,  dia ingin pemerintah menghargai musyawarah, bukan pemerintah yang membungkam perbedaan pendapat.

Sedangkan sila Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Sudah terlalu lama negeri ini menunggu pemimpin yang mampu mewujudkan keadilan sosial. Karena itu dengan segala hal kami bertekad 2019 Ganti Presiden," ucapnya. (*)


Sebelumnya
Selanjutnya