Jumat, 24 Juli 2020

Lahan Kritis Jadi Masalah di Masamba, Harus Ada Perbaikan!


MAKASSAR, Knews.co.id - Indonesia kembali berduka. Kali ini, Kabupaten Luwu Utara yang menjadi korban. Banjir bandang disertai lumpur menerjang sejumlah daerah di Masamba.

Banjir tersebut menjadi duka dan luka bagi korban, masyarakat Luwu utara, bahkan bagi Indonesia.

Hingga saat ini, korban meninggal telah mencapai 36 orang, ratusan orang luka-luka, dan ribuan rumah rusak parah akibat tetimbun lumpur.

Tak ada yang ingin disalahkan dalam kondisi ini. Alhasil alamlah yang menjadi tameng pembungkus aib kesalahan.

Namun, Subari Yanto, pemerhati lingkungan Sulsel mengindikasikan hal lain. Ia menyebut lahan di Luwu Utara adalah lahan kritis yang terjadi akibat berkuarangnya kualitas hutan (forestry). Sehingga berpotensi menjadi penyebab terjadinya longsor hingga banjir bandang.

Berkurangnya kualitas hutan di Luwu Utara terjadi karena beberapa sebab. Sebut saja penebangan hutan, perambah hutan, kebakaran hutan, tanah longsor, pembukaan lahan pertanian berpindah, dan pembangunan rumah dilereng-lereng gunung oleh masyarakat lokal menjadi sekian diantara faktor-faktor tersebut.

Subari mengatakan, Hutan dengan fauna yang ada didalamnya memiliki ikatan tarik menarik dalam rantai kehidupan. Termasuk manusia didalamnya.

"Flora, fauna dan ekosistem hutan sebagai satu kesatuan sistem yang saling terkait erat satu dengan yang lain," ujar Subari saat ditemui Rabu (22/7).

Kualitas hutan yang baik akan menjadi jaminan ketersedian sumber kehidupan yang baik pula. Terutama pada air, hutan dapat memproduksi air dan juga dapat mengikat air.

Peristiwa banjir bandang Masamba yang terjadi beberapa pekan silam tersebut mengindikasikan, hutan disana tak mampu mengikat air, sehingga saat curah hujan tinggi air langsung menerjang perumahan warga.

Menurut Subari, hal yang perlu dilakukan saat ini adalah mengembalikan fungsi hutan dengan melakukan rehabilitasi lahan.

Rehabilitasi lahan bukan perkara mudah, Semua steakholder baik Pemerintah, Masyarakat hingga korporat harus bahu membahu mengembalikan lahan kritis ini.

"Masyarakat secara umum dan korporasi dapat mempengaruhi produktivitas lahan. Perlu adanya edukasi pada masyarakat secara luas dan instansi-instansi terkait dengan gaya hidup yang ramah lingkungan," lanjutnya.

Sedangkan Pemerintah harus memikirkan kebijakan yang tepat dan bertanggungjawab menjaga ekosistem lingkungan tersebut.

"Pemerintah dalam hal ini kementerian lingkungan hidup, Dinas Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah  (Bapeldada) secara bersama-sama bertangungjawab mensosialisasikan kebijakannya terkait dengan penanggulangan lahan kritis," pungkasnya.

Bagi Subari alam dapat menjadi kawan dan dapat pula menjadi lawan yang bisa saja membuat malapetaka bagi manusia.

Tak ada pilihan lain selain menjaga alam termasuk semua unsur yang ada di dalamnya.

Zaki Rifan

Sebelumnya
Selanjutnya