Kamis, 27 Agustus 2020

Keimanan Yang Kiri, Dosa Itu Sangat Kecil

Penulis : M. Agusman (Ketua Umum Komisariat syafi'i ma'arif)

OPINI KNEWS - Jika tidak ada yang melakukan dosa, maka banyak hal bermanfaat yang akan hilang. -Thomas Aquinas-_*

Aku hanya berusaha melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, memang sedikit aneh namun percayalah ini analisis dari Paradigma yang paling tertindas sekaligus sangat bebas. Mari pahami apa yang akan terkuak, mendekatlah jangan takut, duduklah temani aku di persimpangan kiri ini.

Nah, saat ini aku ingin merenungkan suatu gerak pikir orang-orang beragama itu. Banyak diantara mereka yang terlalu takut pada Dosa (hahahah), dosa terlanjur menjadi akar perenunganku saat ini. Dan aku kira saat ini dosa menjadi suatu kata yang lapuk artinya. Dulu saat aku masih berusaha menyatu dengan ruang lingkup Ibu pertiwi ini aku melihat banyak orang-orang yang melihat dosa itu identik dengan lupa mengerjakan Shalat, malas membaca Kitab Suci, dan dekat (bergaul) dengan perempuan yang bukan Mukhrimnya.

Bahkan, pada saat aku masuk di salah satu perguruan tinggi yang ada di daerahku, perihal dosa sangat menjadi pergolakan pemikiran yang aku kira itu sangat di besar-besarkan, dosa menjadi makin vulgar dalam bentuk-Nya. Bahkan, mereka yang lupa membaca doa sebelum tidur akan menjadi tersangka dalam perbuatan dosa, mereka yang memlihara anjing di rumahnya pasti tidak bisa dimasuki malaikat, padahal anjing dapat membantu memburu hewan perusak tanaman petani (Babi) bahkan sangat membantu menjaga hewan ternak penduduk sampai maling yang ingin mengambil milik penduduk.

Dosa menjadi kata yang paling tepat untuk mendiamkan anak-anak yang sedang gaduh, sungguh dosa itu bukan hanya kata sifat tapi ia juga berdampingan dengan segala bentuk kesengsaraan yang menimpa badan. Bayangkan jika kisah tentang neraka yang memuat segala bentuk teknologi yang menyakitkan, ada lidah di potong dan tangan di setrika. Itulah imbalan yang layak untuk manusia yang kehidupannya dibalut dengan dosa, ia yang menjadi ancaman besar di bandingkan Tuhan.

Namun, dalam perjalan kehidupan aku bukan hanya sekedar membaca buku tentang neraka dan surga saja, melaingkan juga buku yang berbau sastra dll. Sehingga ada salah satu buku yang selalu menghantui rasa keimananku yaitu karya Naguib Mahfouz atas sebab karyanyalah sehingga membuatku bertanya-tanya tentang dosa. Dimana ada sosok seorang laki-laki yang selalu di buru oleh pembenaran serta kesalahan sebab salah melakukan pembunuhan, tiba-tiba kebimbangan laki-laki itu menyelimuti diriku, dalam menyaksikan berbagai fenomena. Hingga aku bepikir bahwa hidup lagi-lagi bukan di tentukan oleh pahala dan dusta.

Mari kita lihat sosok zhivago yang lebih memilih menulis puisi dan membantu orang-orang  ketimbang ramai-ramai ikut revolusi Oktober, saya memang bukan zhivago tapi hati saya bergerak ketika ia melakukan hal tersebut.

Para pembaca yang budiman, Dosa dan Kiri memang bukan sebuah persamaan. Namun, keduanya tidak akan tinggal lama di negri ini. Sebuah negeri yang berpenduduk besar dan semuanya memiliki agama, mayoritas memeluk Islam. Tiap hari jumat, masjid penuh sesak dengan kehadiran kaum muslim, ada yang tidur setelah sampai disana, hadir penghutbah yang mengulang-ulang temanya, ada pengurus mesjid yang selalu mengumumkan pendapatan infaq dan tentu ada selembar kecil yang di keluarkan oleh gerakan islam. Hari jumat itu jadi penghelatan mingguan yang kadang berjalan datar, lazim dan kurang bergairah.

Keimanan saya, entahlah tidak bisa mudah bergetar, menyaksikan rentetan khutbah para khotib. Saya pun tak ingin mengusut lebih dalam, menagpa keimanan saya menjadi loyo. Karena saya percaya puisi Ajib Rosidi :

"Cuma bulan yang mampu mencium hatiku, bulan yang biru.Cuma perempuan yang mampu mengerti dukaku, perempuan
yang rindu.”

Rasa loyo itu makin menegang ketika aku menyaksikan manusia berkopyah hidp mewah. Rasanya tuhan tak pernah berkelebat di keningnya, karena kehidupannya terasa angkuh diwajah para pengemis yang jumlahnya sama dengan rumput liar, tak bisa terhitung. Berkopyah dan duduk sebagai anggota parlemen, tidak cukup hanya bermental jujur, sebab jujur tak bisa jadi modal untuk melawan keperkasaan Musuh yang berlindung dibawah ketiak pemodal serta seragam para serdadu.

Jujur, ternyata ini semua menjadi memalukan saat rakyat terjepit dengan uang sekolah yang mahal dan anda yang mengaku beriman Hanya Diam melihat keterpurukan tersebut. Tidakkah kalian mengingat kalimat Nabi Muhammad SAW yang menyadarkan para sahabat :

"Ketahuilah, akan aku kabarkan kepadamu bagaimana seorang mukmin itu dapat di sebut mukmin, yaitu dengan memperbaiki keadaan masyarakat dengan diri dan harta mereka.”

Namun, dapat kita lihat rentetan waktu yang telah berlalu hingga saat ini, aku kurang yakin kita memiliki ingatan dengan petuah tersebut. Bahkan mereka yang mengaku ketua partai islam sekalipun, tak ada yang bertolak dari strategi memperjuangkan rakyat. Lebih condong strategi untuk memperebutkan kursi. Sehingga ketika ada tangis seorang anak di pelosok negeri mereka bukan sibuk mencari solusi tapi sibuk mencari koalisi.

Negeri ini memang sedang carut maruk, dimana lagi para ulama, pemuka agama yang lebih sering memebrikan iman yang palsu memberikan  konsep beriman yang mudah mengkafirkan, membid’ahkan kelompok yang tak sepaham (beda ideologi), merumuskan aqidah yang mudah di cernah namun mematikan kemanusiaan. Kita perlu adanya revolusi sosial total ataukah perang total, biarkan rakyat mati dalam gelimang darah agar para penguasa yang haus kekuasaan puas dan pemuka agama yang menjual bait-bait suci demi kerongkongan dan bongkahan perutnya agar lebih jitu dan menyentuh ucapannya meski memiliki kepentingan pribadi.

Dan saya ingin berpendapat selaku anak negeri melihat negeri yang tercinta menghasilkan dosa (kesalhan Fatal) yang memenuhi ruang-ruang di setiap lini kehidupan, dalam kacamata saya saat ini, saya melihat Indonesia ibaratkan kapal raksasa yang berusaha melintasi samudera, yang berlayar tak tahu arah, arahnya ada hanya nahkoda kita yang tak tahu membaca, mungkin ia bisa membaca namun tertutup Hasrat yang membabi buta. Hasrat yang hidup di keluarga, kolega dan mungkin istri muda, negara ini memang seperti kapal dengan penumpang yang berbagai rupa ada dari Sulawesi, Sumatra, kalimantan, papua Bersatu dalam Nusantara. Enam kali sudah kita ganti nahkoda tapi masih jauh dari kata sejahtera, dari teriakan kata merdeka hingga teriakan anak-anak alay tak kunjung ada kesejahteraan. Kita bisa melihat mulai dari nahkoda pertama sang proklamator Bersama hatta, meski banyak orang yang memuji dan menyebut ia membangun dengan semangat pencasila dan terkenal di Kalangan wanita, ia pernah berkata mampu menguncangkan dunia dengan Sepuluh Pemuda namun bagi saya itu hanya ungkapan politisis yang pendusta.

Nahkoda kedua 32 tahun berkuasa datang dengan program bernama PELITA, bahkan banyak yang menyebutnya bapak pembangunan namun bagi saya tidak ada bedanya TIDAK ADA!!!, penumpang bersuara atau hilang dilautan tanpa berita. Nahkoda ketiga sang wakil naik tahta mewarisi pecah belanya masa orba, belum sempat menjelajahi samudera ia terhenti di tahun pertama, dibanggakan di eropa di permainkan di Indonesia, jerman dapat ilmunya namun kita dapat apa? Kita dapat antrian Panjang nonton Filmnya. Nahkoda keempat sang kiai dengan hati terbuka, ia terhenti dalam sidang istimewa ketika tokoh-tokoh reformasi merebut istana, Potong saja semuanya, Gitu aja kok repot, ucap Gusdur.  

Nahkoda ke-5, nahkoda pertama seorang wanita  dari tangan ibunya bendera pusaka tercipta, nahkoda selamjutnya dua kali unggul dalam perolehan suara dua kali di sumpah atas nama Garuda tapi itu hanya awal cerita, cerita Panjang nya terpampang dibanyak media Lapindo, Munir, senturi hambalang kami menolak lupa. Saat ini kita sedang di nahkodai oleh sosok yang memiliki pemahaman kemasyarakatan, sebab ia hidup dalam balutan siksaan kehidupan lalu di berikan kesempatan oleh rakyat Indonesia untuk menghapus tirani dan mengangkat martabat negeri ini, namun lagi-lagi kemerosotan terhadap kemajuan yang terjadi, ibaratkan brjalan ditempat. Mengapa demikian sebab cengkraman oligark yang menraksasa, nahkoda yang menduduki singgasana istana hanya sebagai alat atau robot yang dipegang alat kendalinya. Kebijakan yang di juantahkan, mengenai tatanan negeri, politik, ekonomi, serta pendidikan sangatlah tidak ada output nya, bahkan jika tak secepatnya di sadari maka 10 – 25 tahun kedepan Indonesia tak menjadi indonesia emas tapi sebaliknya.

Pembaca yang Budiman, sebagaimana yang telah saya paparkan diatas bahwa segala bentuk aktivitas dosa telah mengakar, tak mampu dianulir lagi. Oleh sebab itu jangan jadikan dosa untuk alasan tak melangkah kearah perbaikan atau yang berkemajuan, kita harus bangun dari tidur yang Panjang mengubah segala apa yang menjadi keharusan kita  selaku manusia di alam semesta _(Khalifah Fil-ardh)_. Mari kita bersama meluruskan segala bentuk yang menyimpang meski banyak perbedaan, dimulai dari bagaimana cara kita menghargai perbedaan, agama, ras, suku dan warna kulit, kaya serta masyarakat miskin.

Mari menghidupkan saklar Plural, dalam benak saya bahwa seluruh manusia yang dilahirkan memiliki hak atas kehidupan yang layak, sebagaimana yang saya impikan iakah kehidupan yang pluralisme, karena saya memahami bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan (yang Mysterium)  secara berbeda, perbedaan itu di ciptakan oleh Tuhan.  Sebagaimana yang telah di sabdakan oleh-Nya :
_“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” Q.S Yunus : 99._

“Dan kalau Allah menghendaki, nescaya dia akan menjadikanmu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Q.S An-Nahl : 93

Nah, jelas bahwa jika Tuhan menghendaki kita sama maka ia akan menghendakinya, tapi sebab Tuhan memahami diluar pemahaman manusia. Maka Allah menciptakan beda, bahwa sayalah yang membuat beda, sebab kepercayaan akan hal itu bahwa perbedaan itu Tuhan Yang ciptakan, maka sudah sepantasnya kita saling menghargai sebab perbedaan itu tuhan yang menciptakan maka ia menimbulkan kesadaran kepada kita untuk saling menghargai sebagai Fakta, sebagai fitrah yang tak bisa kita hindari, itulah pluralisme yang saya impikan.

Oleh sebab itu dengan penuh kesadaran yang tinggi kepada seluruh kaum intelektual untuk melangkah dalam kehidupan yang Plural, sebab segala sesuatu yang kita ingin capai harus kita satu dalam Gerakan social yang terpadu sebagaimana Pepatah Bijak “Kedzaliman yang terorganisir akan mengalahkan, Kebenaran yang tak terorganisir”,

mari hilangkan segala aktivitas Egosentrisme diantara kita “Engkaulah yang diciptakan Allah dari cahaya Murni,
Segala sesuatu yang diluar penjelasanmu hanyalah ilusi, engkau adalah sebuah dunia dan penguasa dunia, engkau adalah pengetahuan dan sebuah pintu bagi pengetahuan.”

Penulis : M. Agusman
(Ketua Umum Komisariat syafi'i ma'arif)

*Tulisan tanggungjawab penuh penulis



Sebelumnya
Selanjutnya