Selasa, 29 September 2020

KOHATI Kom. UFP dan LAPMI Detektif HMI CAGORA Menggelar Raker Bersama


GOWA, KNEWS - HMI Komisariat Ushuluddin Filsafat dan Politik (UFP) Cabang Gowa Raya -  Korps HMI-Wati (KOHATI) - Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) menggelar Rapat Kerja (RAKER) di Sekretariat Sanggar Seni Pallantikang Minggu (27/09/2020)

Kali ini, kedua lembaga mengusung tema "Rekonstruksi Nilai-Nilai Perjuangan Dalam Membangun Progresivitas Kader Untuk Mencapai Cita-Cita HMI" ini diharapkan mampu mendorong semangat kader HMI Komisariat UFP dalam berlembaga untuk mencapai tujuan dari HMI itu sendiri.

Deni, selaku Ketua Umum HMI Komisariat UFP, berharap dengan diadakannya kegiatan RAKER ini seluruh Pengurus Komisariat UFP mampu untuk saling bekerja kolektif demi terealisasinya rancangan program kerja dalam satu periode kepengurusan 2020-2021.

"Saya berharap bahwa seluruh kader Komisariat UFP tetap konsisten, dalam menjalankan  tugas dari setiap bidang secara kolektif." Ujarnya.

Adapun rancangan agenda terbesar dari KOHATI, yakni Kelas Pedoman Dasar Kohati (PDK) dan Latihan Khusus Sensitif Gender (LKSG). 

Harapan Ketua Umum Kohati, Rosita, bahwa bidang internal akan difokuskan untuk agenda Kelas PDK dan LKSG.
" Bidang internal  itu kemudian akan lebih fokus pada LKSG dan Kelas PDK, dari bidang eksternal lebih fokus untuk merespon isu-isu keperempuanan dalam bentuk dialog atau seminar dengan bekerjasama dengan lembaga lain." jelasnya.

Agenda dari LAPMI itu sendiri yakni Basic Journalis se-Komisariat tingkat cabang Gowa Raya, Pelatihan dan Sekolah Advokasi Journalis, dan Cakrawala Pers.

Ketua Umum HMI Komisariat Ushuluddin Filsafat dan Politik, Deni, berharap kedepannya, bersama-sama membagun kembali kultur intelektual yang telah hilang akibat sektarian dalam relasi sosial dalam komisariat.

 "Setelah saya bincang-bincang dengan kabid P3A maka kami lebih memfokuskan pada pembangunan intelektual baik dari segi keilmuan dan silaturahmi. Karena itu adalah salah satu patron untuk menjawab kondisi internal Ushuluddin yang selama ini sebenarnya mengalami degradasi pemikiran, degradasi keilmuan. Akibat terlalu lama kader Ushuluddin itu terjebak pada pergaulan-pergaulan yang bersifat sektariat. Sehingga kultur intelektual itu agak sukar untuk di terapkan secara bersama.".
(ril/RA)

Sebelumnya
Selanjutnya