Jumat, 25 September 2020

OPINI : Ibuku Kapitalisme


OPINI, KNEWS - Biar jauh sudah, biar habis arah wajah tak pernah menginci tanah, menjual pasrah membeli percaya, disinilah kuburan sejarah. (radar panca dahana) 

Kerap kali, aku dihadapkan pada situasi dimana jawaban tak bisa lagi diberikan sementara pertanyaan terus ku ajukan. 

Pertanyaanku yang hampir tak sempat kusampaikan kepada senja yang menjadikan malam. 

 "ibu... untuk apa kamu lahirkan aku, ? Apakah aku hanya hasil cinta yang halal, yang tak di inginkan, hingga lupa bahwa aku hadir?apakah sengaja dilahirkan untuk mengisi bumi yang sepi".

Pada situasi tersebut aku kembali dihadapkan pada tuntutan dimana mau tak mau jawaban mesti diberikan kepadaku. 

tuntutanku terhadap ibuku , yang seakan mulutku bungkam tuk kusampaikan. mengkritik ibu sendiri yang pernah tinggal sembilan bulan dalam perutnya, hingga ada Rasa yang tak sanggup. Tak seberaniku bersuara dimeja bundar pemerintah. 

Jika Neraka tempatku, kubiarkan saja, agar tuhan tidak menciptakan tempat secara sia-sia. 

Ibu kerja tak mengenal lelah, tak kenal waktu istirahat, hingga terbenam matahari pun dihiraukan demi untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah menjadikan gunung. Bahkan dunia mengakui bahwa ibu adalah manusia kaya. 

Namun sebagai anak, aku menuntut hakku untuk dinafkahi, pintaku tidak amat besar. cukup sesuap nasi yang sesuai standar perutku.

Dengan menerima "diri yang retak" ini, aku memilih posisi menutup diri. Karena identitasku yang ada pada mereka sama rapuh dengan diriku. 

Hilang diberbagai kesempatan. Dunia datang sebagai air bah, aku dianggap nya sebagai bencana ekonomi, aku kuyup dan hanyut.  Tak ada dahan, Batu, atau sampan tempat berpegang. 

Aku merasa sendiri, seolah aku bukan bagian dari dunianya, aku mulai dengan kenyataan mesti lahir kembali. 

Yang dapat aku sadari dari kenyataan itu menjadikankanku lahir kembali, berpuasa ekonomi, latihan hidup susah.

Penulis : Ronal
(Pemuda Erabaru)

*Tulisan tanggungjawab penuh penulis*

Sebelumnya
Selanjutnya